Kematian di Tengah Musim Panas | 1


Yukio Mishima

La mort … nous affecte plus profondément sous le règne pompeux de l'été.
Baudelaire: Les Paradis Artificiels

Pantai A., dekat ujung selatan Semenanjung Izu, belum banyak tersentuh untuk sebuah lokasi renang. Dasar lautnya berlubang dan tidak rata, dan ombaknya sedikit kasar; tapi airnya bersih, lereng yang menghadap ke lautnya rendah, dan keseluruhan kondisinya baik untuk dijadikan tempat berenang. Sebagian besar karena pantai ini sangat jauh dari tempat lainnya, jadi di Pantai A. tidak terdapat kebisingan dan sampah dari penginapan-penginapan yang lebih dekat dengan Tokyo. Butuh dua jam bepergian ke sini dengan bus dari Itō.

Hampir satu-satunya losmen yang tersedia adalah Eirakusō yang juga menyewakan beberapa pondok. Di sana hanya ada satu sampai dua toko minuman lusuh yang mengacaukan pantai pada saat musim panas. Pasirnya melimpah dan putih bersih, di separuh jalan ke arah pantai terdapat batu besar, sedikit menjauh dari pantai terdapat kumpulan pohon cemara yang meringkuk ke arah lautan seperti hasil pekerjaan seorang penata taman. Saat pasang, setengah bagian dari batu itu akan berada di bawah permukaan laut. 

Pemandangannya sangat indah. Saat angin barat meniupkan kabut dari laut, kepulauan di dekat pantai nampak mendekat, Oshima yang paling dekat dan Toshima yang sedikit lebih jauh, di antara dua pulau itu terdapat pulau berbentuk segitiga bernama Utoneshima. Di luar tanjung pulau Nagano terdapat Tanjung Sakai, salah satu bagian dari pegunungan yang sama yang mengakar ke dalam lautan; dan lebih jauh lagi ada tanjung yang dikenal dengan nama Istana Naga dari Yatsu, atau Tanjung Tsumeki, di ujung selatannya sebuah sinar mercusuar berputar setiap malam. 

Di dalam kamarnya di Eirakusō, Tomoko Ikuta sedang tidur siang. Ia adalah ibu dari tiga orang anak, meski tidak akan ada yang menyadarinya sebagai seorang ibu jika melihat rupanya saat tertidur. Lututnya tampak dari bawah baju terusan berbahan linen pendeknya yang berwarna merah muda ikan salmon. Lengannya yang montok, wajahnya yang lembut, dan bibirnya yang sedikit melengkung memancarkan kesegaran seorang gadis. Peluh menetes ke atas dahi dan ke cekungan di samping hidungnya. Lalat berdengung hampir tanpa suara, dan hawanya seperti berada di dalam kubah logam panas. Pakaian merah muda berbahan linennya yang sangat sedikit bergerak menunjukkan sore yang jemu tanpa sepoi angin. 

Kebanyakan pengunjung berada di pantai. Kamar Tomoko berada di lantai dua. Di bawah jendelanya terdapat ayunan anak-anak bercat putih. Ada beberapa kursi di halaman depan, juga beberapa meja dan pasak untuk permainan lempar gelang. Gelang-gelang lempar itu tersebar di halaman rumput. Tak ada siapa pun di sana, dan dengungan dari lebah yang datang sesekali tenggelam dalam suara ombak di luar pagar taman. Pohon-pohon pinus tumbuh di dekat pagar, memberi jalan menuju pasir pantai dan ombak. Sebuah anak sungai mengalir di bawah penginapan. Sungai itu membentuk sebuah kolam sebelum mengalir ke lautan, dan empat-belas sampai lima-belas angsa akan berkecimpung dan memekik semrawutan ketika mereka diberi makan setiap sore di kolam itu.

Tomoko punya dua anak laki-laki, Kiyoo yang berumur enam tahun dan Katsuo yang berumur tiga tahun, juga seorang anak perempuan, Keiko yang berumur lima tahun. Ketiganya berada di pantai bersama Yasue, kakak ipar Tomoko. Tomoko tidak merasa cemas ketika meminta Yasue menjaga anak-anaknya ketika ia tidur siang di kamarnya. 

Yasue adalah seorang perawan tua. Karena membutuhkan bantuan ketika Kiyoo lahir, Tomoko sudah berunding dengan suaminya dan memutuskan untuk mendatangkan Yasue dari desa. Tidak ada alasan yang jelas mengapa Yasue memilih untuk tidak menikah. Sebenarnya ia bukan perempuan yang menarik, juga tidak sederhana. Keluarganya pernah memiliki beberapa rencana untuk menikahkannya dengan tokoh terkemuka di desa. Ia menolak lamaran demi lamaran sampai umurnya melampaui waktu pernikahan. Karena ingin mengikuti jejak saudaranya ke Tokyo, ia ambil tawaran Tomoko. 

Yasue tidak tergolong orang yang cekatan, tapi ia sangat baik. Ia menganggap Tomoko, yang lebih muda darinya, sebagai kakak, dan selalu berhati-hati untuk menghormatinya. Aksen Kanazawanya sudah hampir hilang. Selain mengurus anak-anak dan membantu pekerjaan rumah tangga, Yasue juga belajar di sekolah menjahit dan membuat pakaian untuk dirinya sendiri, juga untuk Tomoko dan anak-anaknya. Ia akan membawa buku catatannya keluar dan membuat sketsa beberapa mode baru yang dipajang di beberapa jendela toko di pusat kota, kadang-kadang pelayan toko memelototinya dan bahkan menegurnya. 

Yasue berada di pantai dengan pakaian renang hijaunya yang indah. Yang satu ini tidak dibuatnya sendiri – ia beli di toko swalayan. Ia bangga dengan kulit pedesaan-utaranya yang cerah dan hampir tak menunjukkan bekas terbakar matahari. Ia selalu teburu-buru kembali dari laut ke bawah payungnya. Anak-anak sedang membangun istana pasir di dekat laut, dan Yasue menghibur dirinya dengan meneteskan pasir berair ke atas kakinya yang putih. Pasir itu tiba-tiba mulai mengering dan jatuh menjadi bentuk yang gelap, lalu menjadi pecahan-pecahan kecil yang berkilau. Yasue cepat-cepat membersihkan kakinya karena takut jika nanti pasir itu sulit dibersihkan. Serangga kecil yang tak terlihat melompat dari pasir dan bergegas pergi. 

Ia meregangkan kakinya dan bersandar di atas lengannya lalu melihat ke lautan luas. Gumpalan awan yang besar meluap-luap, sangat besar dalam sunyi keagungan mereka. Mereka seolah-olah menelan seluruh kebisingan di bawah, bahkan juga suara laut. 

Saat itu adalah puncak musim panas, ada amarah dari terik sinar matahari.

Anak-anak lelah dengan istana pasir. Mereka berlari menendangi air di tempat yang dangkal. Tersentak dari dunia pribadinya yang aman dan membuatnya luput, Yasue berlari mengikuti mereka. 

Tapi mereka tidak melakukan hal yang berbahaya. Mereka takut dengan raungan ombak. Ada pusaran lembut di luar batas aman di mana ombak terjatuh. Bersamaan Kiyoo dan Keiko berdiri di wilayah yang dalamnya setinggi pinggang mereka, mata mereka berkilauan saat menahan air dan merasakan pasir di bawah telapak kaki mereka. 

“Kayak ada yang narik,” kata Kiyoo ke saudarinya. 

Yasue datang ke sebelah mereka dan memperingatkan mereka agar tidak pergi ke tempat yang lebih dalam. Ia menunjuk Kasuo. Seharusnya mereka tidak meninggalkannya sendiri di sana, mereka harus kembali dan bermain bersamanya. Tapi mereka tidak mendengarkan. Mereka berdiri bersebelahan, tersenyum gembira kepada satu sama lain. Mereka punya rahasia dan hanya mereka yang tahu, sebuah sensasi ketika pasir menarik diri dari kaki mereka. 

Yasue takut kepada sinar matahari. Ia lihat pundak dan dadanya, lalu membayangkan salju di Kanazawa. Ia mencubit kecil bagian dada atasnya. Tersenyum kepada hangat tubuhnya. Kuku-kukunya sedikit panjang dan ada pasir di sela-selanya—ia akan memotong kuku-kuku tersebut saat kembali ke kamar. 

Yasue tidak lagi melihat Kiyoo dan Keiko. Mereka pasti sudah kembali ke pantai. 

Tapi Katsuo sendiri. Wajahnya merengut aneh, ia menunjuk Yasue. 

Jantungnya berdetak keras. Ia melihat ke kakinya yang berada di bawah air. Laut kembali surut, di tengah buih lautan dua meter dari tempatnya berdiri, ada dua tubuh kecoklatan yang mengambang. Ia melihat sekilas celana renang biru tua milik Kiyoo. 

Jantungnya berdetak lebih keras. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya seakan berusaha keluar dari sebuah sudut sempit. Ombak datang dari jarak yang lebih jauh dari biasanya, menjulang ke arahnya, lalu pecah tepat di depannya. Ombak itu menerjang dadanya hingga ia terjatuh lagi ke dalam air. Ia terkena serangan jantung. 

Katsuo mulai menangis, seorang pemuda yang berada di dekatnya berlari. Beberapa pemuda lainnya berlari ke wilayah yang dangkal. Air laut menerjang tubuh telanjang mereka yang kehitaman. 

Dua sampai tiga orang melihat Yasue jatuh. Mereka belum memedulikannya. Ia pasti akan bangkit lagi. Tapi sesaat kemudian selalu muncul firasat, ketika mereka berlari tampak ada yang salah terhadapnya. 

Yasue terbawa ke atas pasir yang terik. Matanya terbuka dan gigi-giginya berkertak, seperti menatap sesuatu hal menakutkan yang tumbuh tepat di depannya. Salah seorang pria memegang nadinya. Ternyata sudah tidak ada detak. 

“Ia tinggal di Eirakusō.” Seseorang mengenalinya.

Manajer penginapan harus dipanggil. Seorang anak dari desa, yang memutuskan untuk tidak membiarkan seorang pun mengerjakan pekerjaan membanggakan ini, berlari melewati pasir yang panas dengan sangat cepat.

Manajer penginapan datang. Ia adalah seorang pria berumur empat-puluhan. Pria itu memakai celana pendek dan kaus yang mengatung, juga sebuah emban berbahan wol yang mengitari perutnya. Ia berpendapat bahwa Yasue harus mendapatkan pertolongan pertama di penginapan. Seseorang menolak pendapatnya. Tanpa menunggu debat pendapat, dua pria mengangkat Yasue dan membawanya ke penginapan. Pasir basah di mana Yasue barusan berbaring membentuk lekuk tubuh manusia. 

Katsuo mengikuti mereka sambil menatap Yasue di belakang orang-orang tersebut. Seseorang melihatnya lalu membawanya.

Tomoko dibangunkan dari tidur siangnya. Manajer penginapan, yang sudah terlatih dalam bekerja, mengguncang tubuhnya dengan lembut. Wanita itu mengangkat kepalanya dan bertanya ada apa.

“Seorang wanita bernama Yasue…”

“Sesuatu terjadi kepada Yasue?”

“Kami sudah memberikannya pertolongan pertama, dan dokter akan berada di sini secepatnya.”

Tomoko bangun dan segera pergi keluar bersama manajer penginapan itu. Yasue terbaring di halaman rumput di samping ayunan, seorang pria yang telanjang dada berlutut di atas tubuhnya. Ia sedang memberikan napas buatan. Di sisi lain terdapat tumpukan jerami dan beberapa peti buah jeruk yang sudah hancur, dua orang pria sedang berusaha menyalakan api di sana. Api akan langsung menghasilkan asap, namun kayunya masih basah karena badai semalam. Orang ketiga mengipasi asap itu ke wajah Yasue.

Kepala Yasue terkulai, menanti seluruh dunia seolah-olah dirinya masih bernapas. Di bawah sinar mentari yang tersaring lewat pepohonan, keringat mengkilap di punggung pria yang menindihnya. Kaki putih, yang terbujur di atas rumput, nampak sintal dan pucat pasi. Kaki itu terlihat lesu, sangat berbeda dengan usaha yang sedang dilakukan oleh seseorang di atasnya.

Tomoko berlutut di atas rumput.

“Yasue! Yasue!”

Akankah mereka menyelamatkan Yasue? Mengapa hal ini terjadi? Apa yang akan dikatakan kepada suaminya? Ia menangis tak karuan, dan pikirannya meloncat dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. Tak lama setelah itu ia menoleh tajam ke orang-orang di sekitarnya. Di mana anak-anak?

“Lihat. Ibumu di sini.” Seorang nelayan paruh baya menggendong Katsuo yang ketakutan. Tomoko melihat sekilas anaknya, dan mengangguk terimakasih kepada nelayan itu.

Seorang dokter datang dan melanjutkan napas buatan. Pipi Tomoko memanas di dekat api unggun, namun ia sulit mengetahui apa yang sedang dipikirkannya sendiri. Seekor semut merayap di atas wajah Yasue. Tomoko memencetnya dan menjentikkannya. Semut lain merayap dari rambut Yasue yang bergelombang menuju daun telinganya. Tomoko memencetnya juga. Memenceti semut menjadi pekerjaannya. 

Napas buatan sudah berjalan selama empat jam. Akhirnya terdapat tanda-tanda bahwa rigor mortis sudah muncul, dan dokter menyerah. Jasad ditutupi sehelai kain lalu dibawa ke lantai dua. Ruangan itu gelap. Seorang pria menaruh jasad itu dan bergegas menyalakan lampu. 

Karena kelelahan, Tomoko merasa sejenis kekosongan yang segar mendatanginya. Ia tak sedih. Ia memikirkan anak-anaknya.

“Anak-anak?”

“Di bawah bermain bersama Gengo.”

“Ketiga-tiganya?”

“Tiga?” Para pria itu saling berpandangan satu sama lain.

Tomoko mendorong mereka ke samping dan berlari ke bawah. Si nelayan, Gengo, dengan kimono berbahan katun, sedang duduk di atas sebuah sofa membaca buku bergambar bersama Katsuo yang memakai baju ukuran dewasa yang menutupi celana renangnya. Pikiran Katsuo tertuju pada sesuatu yang lain. Ia tidak sedang melihat buku.

Ketika Tomoko datang, para tamu, yang mengetahui tragedi itu, berhenti mengipasi diri mereka dan menatapnya.

Ia hampir terjatuh di atas Katsuo. 

“Kiyoo dan Keiko?” tanyanya dengan kasar. 

Katsuo menatapnya dengan penuh rasa takut. “Kiyoo … Keiko … semuanya menggelembung.” Katsuo mulai tersedu. 

Tomoko berlari ke pantai dengan telanjang kaki. Duri-duri cemara menusuki kakinya saat melewati belukar. Pasang telah datang, dan ia harus menaiki batu untuk sampai di pantai tempat anak-anaknya berenang. Pasir putih membentang di bawahya. Ia bisa melihat jauh ke ufuk senja. Satu payung berwarna kuning dan putih telah ditinggalkan. Payung itu miliknya. 

Yang lain menyusulnya ke pantai. Ia berlari serampangan di tengah ombak. Saat mereka mencoba menghentikannya, ia mengusir mereka dengan kesal.

“Tidakkah kalian lihat? Ada dua anak di luar sana.”

Banyak yang belum mendengar apa yang Gengo sampaikan. Mereka pikir Tomoko gila.
___

Sepertinya tidak mungkin bahwa tak seorang pun memikirkan dua anak lainnya selama empat jam penuh saat mereka mengurus Yasue. Orang-orang di penginapan biasa melihat ketiganya bersama. Dan betapapun kecewanya ibu mereka, aneh bahwa tak ada peringatan kepadanya atas kematian dua anaknya. 

Bagaimanapun, adakalanya peristiwa seperti itu menggerakkan keadaan psikologi sebuah kelompok yang hanya memungkinkan sejumlah pemikiran sederhana yang sama datang ke semua orang. Tak mudah untuk mempertahankan pendapat sendiri. Tak mudah untuk menyatakan perbedaan pendapat. Setelah bangun dari tidur siangnya, Tomoko hanya mengambil alih apa yang orang lain sampaikan padanya, tanpa berpikir dahulu untuk bertanya.

Sepanjang malam terdapat beberapa api unggun yang terpisah beberapa meter di sekitar pantai. Setiap tiga puluh menit para pemuda akan menyelam untuk mencari tubuh anak-anak itu. Tomoko berada di pantai bersama mereka. Ia tidak bisa tidur, sebagian sebabnya pasti karena ia sudah tidur terlalu lama saat siang hari. 

Atas saran dari pihak kepolisian, jaring tidak akan dipasang keesokan paginya. 

Matahari terbit menyinari tanjung sampai sudut kiri pantai, dan angin pagi menerpa wajah Tomoko. Ia merasa takut kepada siang hari. Seakan-akan baginya, dengan munculnya siang, seluruh kebenaran juga harus muncul, dan tragedi itu baru akan benar-benar terjadi untuk pertama kalinya. 

“Tidakkah Anda berpikir harus istirahat?” tanya seorang pria tua. “Kami akan mengabari Anda jika menemukan sesuatu. Anda bisa menyerahkan segalanya kepada kami.”

“Silahkan istirahat, silahkan.” Ucap manajer penginapan, matanya merah karena kurang tidur. “Anda sudah cukup menderita. Apa yang akan suami Anda lakukan jika Anda sakit?”

Tomoko takut melihat suaminya. Menemuinya seperti pertemuan di pengadilan. Tetapi ia harus bertemu dengannya. Waktunya sudah tiba – belum lagi bencana lain yang akan segera datang, pikirnya.

Saat itu juga ia memberanikan diri untuk mengirimkan telegram. Itu menjadi alasannya untuk meninggalkan pantai. Ia mulai merasa bahwa tujuan semua penyelam berpindah ke arahnya. 

Ia melihat ke belakang saat berjalan. Laut itu tenang. Cahaya keperakan melintas di dekat pantai. Seekor ikan melompat. Mereka tampaknya agak mabuk dengan siang hari. Ini tidak adil bahwa Tomoko yang harus merasa sengsara.
___

Suaminya, Masaru Ikuta, berumur tiga-puluh-lima tahun. Setelah lulus dari Studi Luar Negeri di Universitas Tokyo, ia bekerja untuk perusahaan Amerika sebelum perang. Bahasa Inggrisnya lancar, dan ia tahu apa yang ia kerjakan – ia lebih trampil daripada sikapnya saat diam. Saat ini ia menjabat sebagai manajer di sebuah kantor Jepang dari perusahaan mobil Amerika, memiliki hak untuk menggunakan mobil perusahaan, sebagiannya dimaksudkan untuk pengiklanan, dan menghasilkan 150.000 yen per bulan. Ia juga memiliki sejumlah cara untuk menyisihkan dana rahasia tertentu untuknya, juga Tomoko dan Yasue, dan seorang pembantu untuk mengurus anak-anaknya, agar bisa hidup aman dan nyaman. Tak ada kebutuhan mendesak untuk mengurangi anggota keluarga sebanyak tiga orang. 

Tomoko mengirimkan telegram karena ia tak mau berbicara dengan Masaru lewat telepon. Seperti kebiasaan di pinggiran kota, kantor Pos akan menelepon ketika pesan itu sampai, dan panggilan itu datang kepada Masaru saat dirinya hendak pergi bekerja. Karena ia pikir itu hanya panggilan bisnis rutin, ia angkat telepon itu dengan tenang.

“Kami punya telegram mendesak dari Pantai A.,” kata seorang wanita di kantor Pos. Masaru mulai merasa gelisah. “Saya akan membacakannya untuk Anda. Anda siap? ‘YASUE MENINGGAL. KIYOO DAN KEIKO HILANG. TOMOKO.’”

“Bisa tolong bacakan sekali lagi?”

Kedengarannya tetap sama saat dibacakan untuk yang kedua kalinya: ‘YASUE MENINGGAL. KIYOO DAN KEIKO HILANG. TOMOKO.’ Masaru marah. Tanpa alasan yang bisa ia pikirkan, kabar ini terdengar seperti pemberitahuan mendadak pemecatannya.

Ia langsung menghubungi pihak kantor dan mengatakan bahwa ia tidak bisa masuk. Ia berpikir untuk pergi ke Pantai A. dengan mobil. Tapi perjalannya terlalu jauh dan berbahaya, ia tak percaya diri untuk berkendara, sehingga kesal karena dirinya sendiri. Sebenarnya ia baru saja mengalami kecelakaan. Jadi ia putuskan untuk naik kereta ke Itō, lalu naik taksi dari sana.

Proses di mana peristiwa yang tak terduga berjalan menuju kesadaran manusia adalah sebuah proses yang aneh dan sulit dijelaskan. Masaru, yang berangkat tanpa mengetahui dasar peristiwa itu, dengan cermat membawa persediaan uang yang cukup. Sejumlah kejadian membutuhkan uang.

Ia naik taksi menuju stasiun Tokyo. Ia tak dapat merasakan apa yang disebutnya emosi, lebih merasa apa yang mungkin seorang detektif rasakan dalam perjalanan menuju tempat kejadian perkara. Karena lebih sedikit berspekulasi daripada mengambil kesimpulan, ia gemetar karena ingin tahu lebih banyak perihal peristiwa yang menyeretnya sangat dalam. 

Tomoko bisa saja menelepon. Ia takut berbicara kepadanya. Dengan intuisi seorang suami, ia merasakan sebuah kebenaran. Tapi bagaimanapun juga, persoalan pertama adalah untuk datang dan melihat dengan matanya sendiri. 

Masaru memandang keluar jendela saat mereka mendekati pusat kota. Matahari di pertengahan musim panas bahkan lebih menyilaukan karena kerumunan orang berkemeja putih. Pepohonan di sepanjang jalan melemparkan bayang-bayang yang pekat langsung ke bawahnya, dan di pintu masuk sebuah hotel tenda berwarna merah-putih mencolok terlihat tegang, seakan sinar matahari adalah sebuah logam berat. Bagian jalan yang baru saja digali untuk perbaikan sudah kering dan berdebu.

Dunia di sekitarnya selalu sama seperti dulu. Tidak ada yang terjadi, dan jika ia ingin mencoba, ia juga bisa percaya bahwa tidak ada yang terjadi bahkan kepadanya. Rasa jengkel kekanak-kanakan menghampirinya. Di suatu tempat yang tak diketahuinya, sebuah kejadian yang tak ada sangkut paut dengannya telah memisahkannya dari dunia.

Di antara penumpang-penumpang ini tak ada yang sangat sengsara sepertinya. Pemikiran itu seperti menempatkannya pada tingkat di atas atau tingkat di bawah seorang Masaru biasa, ia tak tahu yang mana dari keduanya. Ia adalah seseorang yang istimewa. Seseorang yang terbelah dua. 

Bagi seseorang yang memiliki tanda lahir besar di punggungnya, terkadang Masaru terdorong untuk berteriak: “Dengar, semuanya. Kalian tidak tahu ini, tapi saya punya tanda lahir besar dan berwarna ungu di punggung saya.”

Lalu ia ingin berteriak lagi kepada penumpang lain: “Dengar, semuanya. Kalian tidak tahu ini, tapi saya baru saja kehilangan adik perempuan dan dua dari tiga anak saya.”

Keberaniannya menciut. Jika saja anak-anak selamat … Ia mulai memikirkan cara lain untuk mengartikan telegram yang diterimanya. Mungkin Tomoko, karena kelimpungan atas kematian Yasue, berasumsi bahwa anak-anak juga mati padahal mereka hanya tersesat. Mungkinkah telegram kedua sedang menantinya di rumah saat ini? Masaru sedikit merasa tenang dengan perasaannya sendiri, seakan peristiwa yang terjadi tak lebih penting dari reaksinya kepada peristiwa itu. Ia menyesal karena tidak segera menelepon penginapan Eirakusō.
___




[1] Sebelumnya telah diterjemahkan dan dipersingkat ke dalam Bahasa Inggris oleh Edward G. Seidensticker. Cerita ini diterjemahkan kembali dari buku kumpulan cerpen Death in Midsummer (Penguin, 1971) karya Yukio Mishima.
[2] Kematian … lebih mempengaruhi kita di bawah kuasa musim panas yang angkuh. Baudelaire: Surga Buatan (Penj).
[3] Cerita ini dibagi ke dalam tiga bagian agar lebih mudah dibaca (Penj).

Comments

Popular Posts